4. Jesus Turns Water Into Wine

4. Mukjizat Yesus yang Pertama

Yohanes 2

Injil Menurut Yohanes

 

Seperti yang telah kita katakan pada pelajaran sebelumnya dalam Injil Yohanes, tujuan penulis dalam menulis Injilnya adalah untuk membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan, agar para pembacanya percaya dan menempatkan iman mereka di dalam Kristus. Sekarang Yohanes menunjukkan kepada kita beberapa tanda mukjizat yang pertama.

 

1Pada hari ketiga ada perkawinan di Kana yang di Galilea, dan ibu Yesus ada di situ; 2Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu. 3Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” 4Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” 5Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” 6Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung. 7Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan merekapun mengisinya sampai penuh. 8Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. 9Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya--ia memanggil mempelai laki-laki, 10dan berkata kepadanya: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang.” 11Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya. (Yohanes 2:1-11)

 

Stigma yang Ditanggung Maria

 

Kita tidak banyak menggunakan kata stigma saat ini, tetapi kata itu menggambarkan tanda aib yang terkait dengan keadaan tertentu yang dialami seseorang. Sebelum kita melihat keajaiban, mari kita mencoba menempatkan diri kita di dalam posisi Maria, ibu Yesus. Sejak dia hamil, ada noda pada reputasinya, stigma sosial di tengah-tengah tempat tinggalnya sekarang selama sekitar tiga puluh tahun.

 

Pada masa itu, jika seorang wanita didapati hamil di luar nikah maka dia akan dirajam sampai mati karena perselingkuhan. Karena alasan ini, Yusuf tidak pernah menuduh dia di depan umum, tetapi pasti sulit baginya untuk mengerti. Bagaimana mungkin Maria hamil tanpa mengenal seorang laki-laki? Tentunya, pertanyaan ini pasti diam-diam menjadi topik pembicaraan di antara keluarganya dan orang-orang yang mengenalnya dengan baik.

 

Maria telah dituduh melakukan seks di luar nikah, dosa yang menyedihkan bagi seorang gadis muda Yahudi. Yusuf telah diberitahu tentang gambaran mukjizatnya oleh seorang malaikat, tetapi Maria masih tetap harus menanggung malu, karena tanpa wahyu ilahi, siapa yang dapat mempercayai kisah seperti itu? Bagaimana dia bisa menjelaskan, bahkan kepada keluarganya sendiri, bahwa dia masih perawan saat kelahiran Yesus?

 

Menurut Anda, bagaimana perasaan Maria ketika dia mendengar bahwa Herodes membunuh setiap bayi laki-laki di Betlehem yang berumur kurang dari dua tahun? (Matius 2:16). Ibu muda ini sungguh menghadapi ketakutan yang sangat nyata bahwa putranya akan diburu dan dibunuh oleh Herodes jika bayinya dicurigai sebagai Mesias yang dijanjikan.

 

Injil Matius mencatat bahwa malaikat telah memperingatkan Yusuf tentang Herodes berniat membunuh dan bahwa ia harus membawa Maria dan bayi Yesus ke Mesir untuk sementara waktu (Matius 2:13). Mereka mematuhi peringatan malaikat, dan setelah Herodes meninggal, Yusuf dan Maria kembali ke Nazaret di Galilea dengan harapan dapat hidup dengan normal dan tenang. Sungguh perjalanan yang mendebarkan telah dialami oleh keluarga muda ini!

 

Setelah kelahiran Yesus di Betlehem dan perjalanan berikutnya ke Mesir, mereka sekarang menghadapi tantangan untuk menetap dan mendapat tempat dalam komunitas Nazaret, dan sudah pasti bahwa Yesus dibesarkan dengan stigma yang melekat pada mereka yang silsilahnya dipertanyakan. Garis darah dan warisan keluarga seseorang adalah yang terpenting pada masa hidup Yesus. Dalam istilah sosial, hal itu mendefinisikan siapa Anda kepada orang lain.

 

Tampaknya orang-orang Farisi dan para pemimpin Yahudi yang membenci-Nya telah mengirim mata-mata mereka ke Nazaret untuk memeriksa rincian kelahiran atau silsilah-Nya. Dalam percakapan yang memanas dengan Yesus, pemuka agama menyindir-Nya bahwa Dia merupakan anak haram, “Jawab mereka: “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.”(Yohanes 8:41). Di tempat lain ketika berbicara dengan orang buta sejak lahir yang telah disembuhkan oleh Yesus, mereka berkata: “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” (Yohanes 9:24).

 

Saya yakin Maria merindukan kebenaran untuk dinyatakan mengenai siapa Yesus sebenarnya dan untuk pemulihan nama baiknya menjadi lengkap. Ketika Yesus mengucapkan selamat tinggal kepada keluarga-Nya di Nazaret dalam perjalanan-Nya untuk dibaptiskan oleh Yohanes Pembaptis, Maria mungkin merasa bahwa akhirnya saat pembersihan namanya telah datang.

 

Pernikahan di Kana yang di Galilea

 

Acara tersebut merupakan pesta pernikahan di Kana yang di Galilea, sebuah kota yang berjarak sekitar delapan kilometer dari kota asal Maria dan Yesus di Nazaret. Kita dapat berasumsi bahwa, karena Maria, Yesus, dan murid-murid-Nya diundang, maka itu adalah pernikahan teman dekat atau kerabat. Yusuf, suami Maria, pasti telah meninggal pada suatu saat setelah ulang tahun Yesus yang kedua belas, kisah terakhir yang dicatat saat Yusuf bersama Maria dan Yesus (Lukas 2:41-51). Sangat mungkin pula bahwa pada saat Yusuf meninggal, tanggung jawab keuangan bersandar pada Yesus sebagai anak sulung untuk menjadi pencari nafkah bagi keluarga sampai saudara-saudara-Nya dibesarkan.

 

Kita diberitahu bahwa Maria memiliki empat putra setelah kelahiran Yesus dan setidaknya dua anak perempuan dan bahwa Yesus dikenal sebagai anak tukang kayu (Matius 13:54-57). Kita tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas jamuan dalam pernikahan di Kana, tetapi cukup masuk akal untuk mengasumsikan bahwa Maria menunjukkan tingkat perhatian dan tanggung jawab karena dialah dan bukannya pemimpin pesta yang diberitahu bahwa anggur telah habis. Pemimpin pesta tentu tidak tahu apa-apa tentang masalah ini sebagaimana dibuktikan oleh kurangnya pengetahuan ketika air diubah menjadi anggur (ayat 9). Barangkali cara para pelayan memandang ke arah Maria adalah suatu indikasi bahwa pernikahan itu adalah acara seorang kerabat, teman dekat, atau bahkan salah satu saudara tiri Yesus.

 

Keramahtamahan adalah yang terpenting di Timur Tengah. Dalam budaya tersebut, pihak laki-lakilah yang bertanggung jawab atas biaya pernikahan. Keluarga dapat dituntut oleh orang tua pengantin perempuan jika orang-orang meninggalkan perayaan dengan perasaan tidak puas atau anggapan bahwa jamuannya tidak memenuhi standar. Orang-orang meminum anggur karena anggur lebih aman diminum daripada air, dikarenakan proses pemurnian yang dilaluinya; air lebih diragukan. Sistem pembuangan limbah pada masa itu tidak seperti sekarang ini. Mereka tidak pernah tahu apa yang terjadi di hulu air.

 

Namun, mereka tidak menyetujui mabuk-mabukan dan seringkali jika rasa anggur terlalu kuat akan dicampur dengan air. Tetapi anggur dengan makan malam dan perayaan adalah norma bagi orang dewasa di kawasan Mediterania dan Timur Tengah. Saya ingat, bertahun-tahun yang lalu, saya sedang dalam perjalanan misi jangka pendek yang membawa kami melalui Perancis, Spanyol, dan Portugal, kami mengunjungi dan membantu para pendiri gereja dan pendeta. Kala itu kami mengunjungi seorang pendeta di Portugal, dan ketika kami sedang makan, saya menolak anggur dihidangkan dalam makan malam. Dia memberi tahu saya betapa asingnya budaya daerah itu untuk tidak minum anggur saat makan malam.

 

Anggur sangat penting untuk perayaan pernikahan di Timur Tengah. Alkitab mengatakan bahwa, “anggur yang menyukakan hati manusia” (Mazmur 104:15). Para rabi memiliki pepatah: “Tanpa anggur, tidak ada sukacita.” Ini adalah kehidupan religius yang khas sebelum Yesus datang. Para pemuka agama telah mengubah agama Yahudi menjadi sesuatu yang berat, dan sukacita telah hilang darinya. Dalam budaya Yahudi, anggur adalah lambang kegembiraan untuk dinikmati bersama dengan teman-teman.

 

Anggur yang habis memiliki arti simbolis pada pernikahan ini. Seolah-olah Maria berkata, “Sukacita mereka telah habis.” Hidup pun dapat seperti itu; menjalani rutinitas sehari-hari, kurangnya sukacita dalam hidup tanpa apa pun yang diharapkan. Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga…” (Pengkhotbah 10:10). Hidup kita menjadi membosankan karena terlalu banyak kerja dan energi kita terkuras habis ketika dipermainkan dan tidak ada sukacita. Banyak orang mencari kesenangan dengan mengejar kesuksesan, tetapi saya belum pernah mendengar ada orang yang mengatakan di ranjang kematian mereka, “Saya berharap saya menghabiskan lebih banyak waktu di kantor.”

 

Yang lain lagi melewati tantangan keuangan, yang menggoda mereka untuk bekerja lebih keras dan mengambil lebih sedikit waktu untuk hal-hal menyenangkan dalam hidup yang tidak memerlukan biaya apa pun, seperti menikmati hubungan dekat dengan keluarga dan teman. (Jika Anda tidak memiliki keluarga dan teman terdekat, mulailah kelompok kecil!) Buka rumah Anda untuk orang lain. Biarkan sukacita Tuhan menjadi kekuatan Anda dengan menjalani kehidupan, yang melibatkan sukacita hubungan dan berbagi waktu dengan keluarga:

 

Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran! (Yesaya 55:1, penekanan oleh saya)

 

Dalam bagian di atas, Alkitab tidak berbicara tentang anggur literal; kita harus membeli anggur sukacita tanpa uang dan tanpa biaya. Bagaimana cara kita membelinya tanpa biaya? Kita harus datang ke sumber Air Hidup, Anggur sejati (Yohanes 15:1), Tuhan Yesus Kristus, dan minum dalam-dalam dari Dia. Kita dapat melakukan ini dengan menghabiskan waktu membaca Firman-Nya, Alkitab, dan mencurahkan waktu pribadi dalam doa. Transaksi ini dilakukan ketika kita membayar dengan kemiskinan dan kebobrokan rohani kita, menyerahkan diri kita ke dalam tangan-Nya untuk menerima hidup yang utuh yang Dia janjikan kepada kita. Bukankah ia terdengar seperti transaksi yang bagus? Anda tidak akan pernah menemukan perdagangan demikian yang sangat baik di pasar saham!

 

Jika kita cukup bijak dalam membeli dan menjual dalam kehidupan ini, kita akan menyadari bahwa hal itu lebih berkaitan dengan apa yang kita abdikan dalam hidup kita, menukarkan sumber daya kita yang terbatas untuk kekayaan sumber daya tanpa batas. Banyak yang mencari kebahagiaan dalam hidup ini, tetapi kata kebahagiaan (happiness) berasal dari kata bahasa Inggris yang lama hap, dan itu mengacu pada hal-hal yang terjadi pada kita. Sesungguhnya sukacita tidak bergantung pada keadaan kita, yaitu apa yang terjadi pada kita, tetapi sukacita sejati mengalir keluar dari menerima kehidupan baru di dalam Kristus. Tuhan berjanji bahwa jika kita datang kepada sumur Kehidupan, kita tidak akan pernah haus. Dia telah menjanjikan kita hidup berkelimpahan (Yohanes 10:10).

 

Pertanyaan 1) Pikirkan kembali masa kehidupan yang paling Anda nikmati. Ada apa dengan masa itu yang membuatnya begitu menyenangkan?

 

Saat-saat paling menyenangkan dalam hidup saya adalah ketika saya memiliki hubungan yang erat dengan orang lain dan dengan Tuhan. Hal yang paling saya sukai dalam hidup adalah duduk mengelilingi meja sambil makan bersama teman-teman. Masa-masa perayaan dengan teman-teman adalah saat-saat paling berkesan bagi kebanyakan orang. Dilema pada pesta pernikahan di Kana hari itu membutuhkan solusi. Maria bertindak terhadap masalah itu. Dia pergi kepada Yesus dan berkata, “Mereka kehabisan anggur” (Yohanes 2:3).

 

Apakah Maria tahu apa yang akan Yesus lakukan terhadap masalah itu? Ingat, seperti yang diceritakan dalam perikop kita dalam Yohanes 2, ayat 11, ini adalah mukjizat-Nya yang pertama, jadi kita tidak tahu apakah Maria mengharapkan sesuatu yang ajaib, dia hanya mengandalkan Yesus dalam situasi yang sulit, berharap bahwa Dia akan memiliki sebuah jawaban. Mungkin, dia mengharapkan Yesus untuk membuat alasan yang layak bagi mereka yang menghadiri pesta atau memberikan semacam khotbah untuk membuat orang-orang berhenti minum ketika pihak pengantin pria pergi untuk membeli lebih banyak anggur.

 

Sampai titik ini, sejauh yang kita ketahui, Maria tidak tahu perkara yang Yesus dapat lakukan. Kitab Suci menunjukkan bahwa Roh Kudus mendatangi-Nya seperti seekor burung merpati pada saat pembaptisan-Nya oleh Yohanes Pembaptis. Lukas mencatat bahwa Yesus penuh dengan Roh Kudus ketika Ia kembali dari baptisan di Sungai Yordan (Lukas 4:1,14). Maria tidak pernah menyaksikan Dia bergerak dalam mukjizat sampai titik ini.

 

Setelah baptisan-Nya ketika Yesus datang ke kota kelahiran-Nya di Nazaret, berkhotbah dan menyembuhkan orang sakit, orang-orang menanggapi dengan terkejut, mengatakan: “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Dari mana Hikmat yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya?”(Markus 6:2). Kesaksian mereka adalah bahwa sepanjang waktu Yesus hidup di antara mereka, mereka tidak pernah mendengar tentang Dia melakukan mukjizat apa pun. Kita harus ingat bahwa bagi orang-orang di kampung halaman Yesus, Dia masih anak laki-laki tukang kayu.

 

Namun, Maria selalu menghargai jati diri-Nya yang sejati di dalam hatinya, mengetahui bahwa Dia adalah Mesias. Mungkin, pada pernikahan ini dia bertanya-tanya apakah sudah waktunya bagi kebenaran ini untuk menjadi jelas bagi orang lain. Maria yakin bahwa Yesus lebih dari mampu untuk memperbaiki masalah. Namun, dalam menanggapi Maria, jawaban Yesus pada mulanya tampak negatif; “Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan? Saat-Ku belum tiba.” (Yohanes 2:4). Dalam bahasa Inggris, memanggil ibumu “perempuan” bukan istilah yang baik untuk digunakan, tetapi dalam budaya kala itu di Israel, sama seperti kita menggunakan kata “Nyonya”. Hal itu bukanlah sesuatu yang tidak sopan.

 

Pertanyaan 2) Sekarang bahwa Yesus telah dipenuhi oleh Roh Kudus pada baptisan Yohanes, apakah yang Yesus maksudkan dengan frasa, “Saat-Ku belum tiba?”

 

Saat-Ku Belum Tiba

 

Dia tidak datang untuk mencari kemuliaan-Nya sendiri tetapi kemuliaan Bapa dan bahwa tindakan utama kemuliaan adalah menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk penebusan manusia. Yesus berfokus pada misi-Nya. Kristus tahu bahwa ketika perhatian tertuju kepada-Nya, Diri-Nya akan menarik perhatian para pemimpin agama. Misinya adalah pengorbanan hidup-Nya. Hanya ada satu cara supaya manusia dapat dibeli kembali dari perbudakan dosa, yakni dengan memberikan hidup-Nya sebagai pengganti bagi manusia. Pengorbanan subtitusi ini tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa karena bagaimana seseorang bisa membayar dosa seluruh dunia?

 

7Tidak seorangpun dapat membebaskan dirinya, atau memberikan tebusan kepada Allah ganti nyawanya, 8karena terlalu mahal harga pembebasan nyawanya, dan tidak memadai untuk selama-lamanya-- 9supaya ia tetap hidup untuk seterusnya, dan tidak melihat lobang kubur. (Mazmur 49:7-9).

 

Hanya Tuhan saja yang bisa mendapatkan keselamatan manusia sebab manusia biasa tidak bisa membayar korban tebusan. Tuhan datang dan menjadi manusia sehingga Bapa sendiri yang akan dipermuliakan. Masuk ke dalam hubungan yang benar dengan Allah adalah satu-satunya hal yang dapat memulihkan sukacita sejati dan satu-satunya Pribadi yang dapat melakukannya adalah Allah Sendiri — Yesus, Anak Allah yang ilahi. Dia telah membuka jalan keselamatan kepada kita dengan membayar hukuman yang adil untuk dosa kita melalui kematian-Nya!

 

Yesus berkata kepada Maria bahwa saat-Nya belum tiba; apakah yang Dia maksud? Dia sedang berbicara tentang bagaimana Dia memuliakan Bapa melalui substitusi kematian-Nya di kayu salib. Ketika Minggu Palem datang, hanya beberapa hari sebelum penyaliban-Nya, sekelompok orang Yunani datang untuk melihat Yesus. Pada waktu itulah Yesus memberi tahu mereka bahwa saat-Nya telah tiba:

 

23Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan. 24Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. 25Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. 26Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. 27Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. 28Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!” (Yohanes 12:23-28, penekanan oleh saya)

 

Tuhan paling dimuliakan ketika kita juga, jatuh ke tanah dan mati bagi diri kita sendiri. Ini berarti memikul salib kita dan mengikuti Yesus. Jika kita mati untuk diri kita sendiri, maka akan ada panen yang akan dibawa oleh Tuhan. Apa yang terjadi pada sebuah benih ketika ditanam di tanah? Kulit luar terbuka, dan kehidupan yang ada di dalam benih mulai dimanifestasikan dan tumbuh. Waktu Yesus telah datang, dan Dia dengan patuh menyerahkan nyawa-Nya sehingga harga tebusan untuk dosa kita dapat dipenuhi oleh-Nya. Empat kali yang lain dalam kitab Yohanes, kita menemukan Yesus mengatakan bahwa saat-Nya belum tiba (Yohanes 7:30; 8:20; 13:1; 17:1).

 

Kepada siapakah Anda meminta saran atau bantuan ketika Anda mencari pemecahan masalah? Beberapa beralih ke Mr. Visa atau Mr. Master Card. Yang lain beralih kepada kecerdasan atau kekuatan dan kemampuan alami mereka sendiri. Ada juga orang-orang yang akan berharap kepada Maria, ibu Yesus untuk meminta tolong, tetapi apakah satu-satunya perintah Maria yang pernah tercatat? “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!” (Yohanes 2:5). Menurut kata-kata Maria, itu adalah nasihat yang baik bagi kita untuk melihat kepada Tuhan dan mengetahui bimbingan-Nya untuk masalah-masalah yang kita hadapi dalam kehidupan. Kita memiliki sumber daya, yaitu Firman Tuhan, doa, dan Roh Allah. Jika kita mencari kehendak-Nya, kita dapat yakin Dia akan menyingkapkan jalan-Nya kepada kita.

 

Tuhan melihat enam tempayan air dari batu yang digunakan untuk upacara pembasuhan kaki dan pencucian tangan. Sangatlah penting bahwa mereka didapati kosong (ay.7); mereka harus mengisinya dengan air. Tempayan-tempayan itu terbuat dari batu, yang berbicara tentang manusia keras yang dingin tanpa Kristus. Kita membutuhkan Firman dan kehadiran-Nya untuk menghidupkan kembali sukacita kita. Masing-masing dari enam tempayan berisi dua puluh hingga tiga puluh galon air (Yohanes 2:6). Tuhan memberi tahu para pelayan untuk mengisi setiap tempayan hingga penuh dan kemudian mengambil sebagian dari air ini kepada pemimpin pesta. Mereka pasti bertanya-tanya apa yang Kristus pikirkan. Mengapa mereka melayani para tamu dengan air yang seharusnya mereka pakai untuk pembasuhan?

 

Bayangkanlah betapa terkejutnya para pelayan yang menimba air dari sungai ke setiap tempayan air. Ketika sendok dicedokkan, keluarlah anggur, dan bukan hanya anggur yang bagus, tetapi anggur yang luar biasa! Pemimpin pesta sangat terkejut dengan kualitas anggur ini dan sangat terkesan sehingga dia berkata kepada mempelai pria: “Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang”(Yohanes 2:10).

 

 

Markus menyaksikan bahwa Yesus “menjadikan segala-galanya baik.” (Markus 7:37). Dengan mengetahui akan hal ini, mengapa pula Dia harus membuat anggur murahan, terutama mengingat pengantin akan selalu mengingat hari itu dan berbicara tentang kisah pernikahan mereka sepanjang sisa hidup mereka? Saya suka berpikir bahwa Maria berkeliling dengan senyuman di wajahnya, berkata kepada semua orang di pesta pernikahan, “Itu anakku!” sebagaimana perempuan Yahudi yang merasa bangga. Apakah Anda tidak berpikir bahwa Maria akan pulang dengan perasaan dibuktikan kebenarannya dan bangga akan Anaknya pada hari itu? Siapapun yang pulang dengan sisa 120 galon anggur terbaik, saya yakin akan merasa diberkati dan berbahagia! Kitab Suci mengatakan bahwa Dia menyatakan kemuliaan-Nya dan bahwa para murid-Nya menaruh kepercayaan mereka kepada-Nya dengan tanda-tanda mukjizat yang pertama (Yohanes 2:11).

 

Yesus Membersihkan Bait Allah

 

12Sesudah itu Yesus pergi ke Kapernaum, bersama-sama dengan ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dan murid-murid-Nya, dan mereka tinggal di situ hanya beberapa hari saja. 13Ketika hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat, Yesus berangkat ke Yerusalem. 14Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ. 15Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. 16Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” 17Maka teringatlah murid-murid-Nya, bahwa ada tertulis: “Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku.” 18Orang-orang Yahudi menantang Yesus, katanya: “Tanda apakah dapat Engkau tunjukkan kepada kami, bahwa Engkau berhak bertindak demikian?” 19Jawab Yesus kepada mereka: “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” 20Lalu kata orang Yahudi kepada-Nya: “Empat puluh enam tahun orang mendirikan Bait Allah ini dan Engkau dapat membangunnya dalam tiga hari?” 21Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri. 22Kemudian, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, barulah teringat oleh murid-murid-Nya bahwa hal itu telah dikatakan-Nya, dan merekapun percayalah akan Kitab Suci dan akan perkataan yang telah diucapkan Yesus. 23Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. 24Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua, 25dan karena tidak perlu seorangpun memberi kesaksian kepada-Nya tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia. (Yohanes 2:12-24).

 

Saat itu merupakan perayaan Paskah tahunan. Yosefus, sejarahwan Yahudi, menyatakan bahwa sebanyak 2½ juta pengunjung akan menjejali Yerusalem selama waktu yang khusyuk ini untuk mengenang keluarnya bangsa Israel dari Mesir di bawah kepemimpinan Musa. Bayangkan bahwa Anda adalah salah satu dari banyaknya peziarah yang telah menyimpan uang Anda selama bertahun-tahun untuk mengunjungi Allah Israel di Bait-Nya di Yerusalem.

 

Orang-orang akan melakukan perjalanan melalui jalan darat dan dengan kapal selama berminggu-minggu untuk pergi ke gedung mengagumkan yang dibangun oleh Raja Herodes di atas Gunung Moria. Ini adalah tempat di mana Abraham diuji ketika dia diminta untuk mempersembahkan putranya, Ishak (Kejadian 22:2). Sebagai salah satu dari para peziarah, Anda akan merindukan untuk mengalami kehadiran Allah dan menikmati pelataran Tuhan yang tenang untuk berdoa dan mengalami kedamaian Tuhan. Hanya dengan merenungkan sejarah tempat itu saja akan membawa kekaguman.

 

Raja Daud dan putranya (Salomo), Hizkia, dan Nehemia, mereka semua pernah tinggal di sini dan benar-benar berjalan di tempat yang dilalui oleh orang-orang sekarang ini. Generasi demi generasi telah mengunjungi situs kudus ini. Saya telah pergi ke bukit Bait Allah beberapa kali dan merasa kagum ketika saya melihat batu-batu kuno di dinding penahan yang dibangun pada masa Bait Herodes. Beberapa batu seberat 200 ton. Ini adalah pemandangan yang luar biasa, yang mengagumkan dalam arti kata yang sebenarnya. Ketika seseorang menaiki tangga ke Bukit Bait Allah itu, kehadiran Allah Sendiri tampaknya tetap ada, meskipun Bait Suci itu sendiri tidak lagi ada di sana.

 

Ketika Yesus berjalan pada hari itu ke dalam pelataran Bait Suci bagi orang-orang bukan Yahudi, hati-Nya menyusut ketika Dia melihat apa yang sedang terjadi. Seluruh pelataran orang-orang non-Yahudi telah diambil alih oleh para penukar uang dan pedagang yang disewa oleh Hanas dan Kayafas, Imam Besar pada waktu itu. Jika Anda adalah orang bukan Yahudi, pelataran ini adalah tempat terdekat yang bisa Anda capai menuju ke Bukit Bait Suci di mana seseorang dapat mengalami kehadiran Tuhan. Orang bukan Yahudi tidak bisa mendekati lebih jauh melebihi pelataran. Yesus marah ketika Dia melihat burung-burung dan binatang-binatang dibeli dan dijual dengan harga selangit untuk memenuhi kantong Hanas dan Kayafas. Bukit Bait Allah sedang dikomersilkan dan berubah menjadi pasar!

 

Pertanyaan 3) Agama sangat diperjualbelikan sekarang ini. Bagaimanakah perasaan Anda tentang hal-hal ilahi yang telah berubah menjadi keuntungan besar? Bahaya apa yang Anda lihat berasal dari praktek semacam ini?

 

Bukannya para penyembah mengalami kehadiran Tuhan, mereka malah diperhadapkan dengan suasana pasar yang bising tepat di dalam tempat suci ini. Mereka yang miskin dan telah membawa anak domba yang tak bercacat untuk dikorbankan pada hari Paskah, dan domba mereka telah diperiksa dan ditolak tanpa alasan selain fakta bahwa Imam Besar, Hanas, hanya menginginkan hewan-hewan yang dijualnyalah yang dibeli dan dikorbankan.

 

Hanas dan Kayafas memiliki cukup banyak kegiatan penghasil uang di tempat yang seharusnya menjadi tempat ibadah. Seekor hewan yang dibeli di dalam pelataran kuil akan menghabiskan biaya lima belas kali lebih banyak daripada hewan yang dibeli di luar. Hanas memimpin segala sesuatu yang terjadi dan bertanggung jawab atas sistem pembelian dan perdagangan yang mengeksploitasi orang miskin. Pajak Bait Allah juga harus dibayar. Pendatang dari negara yang berbeda sering kali mengalami pertukaran uang yang merugi.

 

Itu adalah praktik yang tidak adil dan tidak jujur. Hal ini menyedihkan hati para penyembah sejati yang mengerti keadaan orang-orang yang diperlakukan di dalam Nama Tuhan. Ketika Yesus mendekati Bukit Bait Suci, itulah saatnya mengadakan perlawanan! Tuhan berdiri melawan Imam Besar, keluarganya, dan para pejabat korup lainnya yang mengawasi rencana kotor pembuatan uang ini.

 

Gairah-Nya untuk Nama dan Kemuliaan Bapa-Nya meledak dalam kemarahan yang terkendali. Yesus marah atas ketidaksopanan dan keserakahan mereka. Bayangkan saja adegannya! Uang bergulir di mana-mana dan orang-orang berebut untuk mengambil sebisa mungkin yang dapat mereka ambil ketika meja-meja terbalik. Merpati-merpati terbang ke segala arah, dibebaskan bukannya digunakan untuk keuntungan yang tidak jujur. Gambaran ini merupakan salah satu hiruk-pikuk di dalam pelataran orang-orang Non-Yahudi.

 

Dapatkah Anda membayangkan kemarahan para pemuka Yahudi ketika ditantang oleh seseorang yang mereka yakini sebagai orang yang haram dari Nazaret? Darimanakah Dia mendapatkan otoritas-Nya untuk bertindak dengan cara ini? Mereka mungkin berpikir, “Bagaimana dia dapat beranggapan untuk memberitahu kita bahwa kita tidak dapat menjual barang-barang kita di daerah Bait Suci?” Tentunya Yesus tahu dengan pasti bahwa perilaku-Nya tidak akan menghasilkan teman atau bantuan bagi-Nya di pelataran Bait Suci. Tindakan-Nya yang berani menunjukkan hasrat dan semangat-Nya untuk rumah Bapa-Nya. Sekali lagi, kita melihat bahwa Ia sendirian dalam misi-Nya untuk memuliakan Bapa.

 

Yesus menunjukkan kasih dan perhatian bagi orang miskin, yang tidak berdaya, dan mereka yang dikucilkan dari masyarakat. Sebagai wakil Kristus, apakah kita memberikan perhatian yang sama kepada orang-orang? Sayangnya, kita lebih sering dipengaruhi oleh budaya di sekitar kita daripada Kristus di dalam diri kita. Kita tidak selalu melihat ketidakadilan yang dilakukan atau peluang akan kebutuhan yang harus dipenuhi di depan mata kita.

 

Orang-orang di zaman Yesus mungkin tidak menyadari ketidakadilan yang dilakukan di Bait Suci. Kita bisa menjadi tidak peka terhadap dosa ketika kita hidup di tengah-tengahnya. Bagaimanapun juga, ketika Tuhan tiba dalam suatu keadaan, Dia akan membawa kepada terang hal-hal yang telah dilakukan secara rahasia. Beberapa dari hal-hal itu mungkin telah diterima dan ditolerir, tetapi akan datang suatu hari ketika Dia tidak akan membiarkan mereka lagi. Kitab Suci mengatakan bahwa penghakiman pertama-tama harus dimulai di rumah Allah (1 Petrus 4:17). Dia adalah pembela mereka yang lemah. Ketika Hari Tuhan datang, Dia akan membawa keadilan bersama-Nya.

 

4) Hal-hal apa yang menurut Anda akan Yesus ubah dalam budaya kita, seperti yang kita ketahui, jikalau Ia tiba-tiba muncul di tempat kejadian seperti yang Ia lakukan dalam perikop ini?

 

Ketika orang-orang Yahudi meminta tanda dari Yesus untuk membuktikan otoritas-Nya dalam mengusir semua penukar uang dan penjual hewan, Kristus menjawab dengan mengatakan, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” (Yohanes 2:19). Tentu saja, Dia tidak berbicara tentang Bait Suci tetapi tentang tubuh-Nya sendiri sebagai bait Roh Kudus. Kita masing-masing sebagai orang Kristen adalah pribadi dengan bait Roh Kudus yang sama. Rasul Paulus dalam surat pertamanya kepada jemaat Korintus mengatakan:

 

19Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, --dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? 20Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:19-20).

 

Roh Kudus ingin menghalau dari bait suci-Nya segala sesuatu yang merusak dan menghambat kedamaian di dalam kehidupan seseorang. Hari ini mungkin hari yang baik untuk mengundang Tuhan Yesus untuk datang kembali ke bait Anda dengan Roh-Nya dan mengusir apa pun yang tidak menyenangkan bagi-Nya. Bahkan kita mungkin tidak menyadari apa yang menyinggung Tuhan jika itu adalah sesuatu yang membuat kita tidak peka. Salah satu tugas Roh Kudus adalah menerangi kita di area-area yang ingin diubah oleh Tuhan. Ambillah waktu untuk mempertimbangkan hal-hal apa yang Tuhan ingin bersihkan dari kehidupan Anda untuk membawa Anda ke dalam kemerdekaan rohani yang lebih besar.

 

Doa: Bapa, aku pikir tidak ada misi lain dalam kehidupan ini yang lebih besar daripada melibatkan diri dalam pekerjaan yang Engkau lakukan. Terima kasih karena telah membawaku masuk ke dalam rencana-Mu dan menyediakan jalan mendekat kepada-Mu bagiku. Jika ada sesuatu dalam hidupku yang menyedihkan Engkau, nyatakanlah itu padaku sekarang. Aku ingin melepaskan hal-hal yang menghalangiku untuk mencapai apa yang telah Engkau persiapkan bagiku. Terima kasih atas kekuatan dan sukacita yang Engkau berikan kepadaku ketika aku memilih untuk mengikuti Engkau.

 

Keith Thomas,

Website: www.groupbiblestudy.com

Email: keiththomas@groupbiblestudy.com